Breaking News
You are here: Home >> Opini >> Guru versus “Guru”

Guru versus “Guru”

3 Flares Twitter 1 Facebook 2 Google+ 0 Email -- Filament.io 3 Flares ×
guru dalam film laskar pelangi

guru dalam film Laskar Pelangi

Pengembangan wawasan dan kompetensi adalah sesuatu yang mutlak dilakukan oleh manusia sebagai prasyarat kelanjutan kehidupannya di masa datang. Hal inilah yang sebenarnya telah dilakukan oleh mereka yang tetap survive (bertahan) dalam kehidupan yang semakin berat ini. Tentu prilaku pengembangan ini akan lebih bersifat kewajiban pada profesi tertentu, seperti guru. Hal ini disebabkan karena guru merupakan salah satu pengemban amanah menjadikan manusia lebih mampu survive. Keberadaan guru belum dapat tergantikan dengan unsur lain, meskipun telah banyak alat bantu yang sepertinya mengambil alih peran guru. Guru, sampai kapanpun akan tetap eksis dengan satu syarat mutlak, tingkatkan kompetensi dan wawasan.

Tidaklah bijak seorang guru hanya menjalankan rutinitas belaka tanpa ada pengembangan pada dirinya. Bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, tiba di sekolah lalu mengajar, siang hari pulang ke rumah, sore hari istirahat, malam hari nonton sinetron, lalu tidur untuk menunggu keesokan harinya untuk ke sekolah lagi. Demikian yang dilakukan setiap hari kerja, tanpa ada perubahan dari sisi kinerja, kompetensi, dan kreatifitas. Ironisnya lagi, banyak dari guru yang melakukan aktifitas “membosankan” itu adalah guru-guru muda bahkan ada yang baru terangkat menjadi guru PNS. Mereka berkeyakinan menjadi seorang guru PNS adalah puncak pencapaiannya. Padahal, menjadi guru PNS justru merupakan awal kerja yang betul-betul menuntut pengembangan wawasan dan kompetensi.

Sistem secara keseluruhan juga turut andil terhadap kurangnya kemauan guru terutama guru-guru muda mengembangkan dirinya. Betapa tidak, asalkan mereka tidak melakukan pelanggaran berat dan tindak kriminal, akan sulit bagi guru PNS untuk berkurang finansialnya dalam bentuk gaji yang diterimanya setiap bulan. Ditambah lagi, kurangnya penghargaan yang diberikan kepada guru-guru yang menunjukkan kinerja lebih baik dari guru lainnya. Guru yang kreatif dan inovatif mendapat perlakuan yang sama dengan guru yang hanya meluluhkan kewajiban semata. Akan lebih tragis jika terdapat kasus, guru yang tanpa prestasi justru lebih terperhatikan daripada guru yang telah memperlihatkan kinerja yang baik.

Sebenarnya, system dan mindset sebagian guru memang harus mengalami perubahan. Sistem harus fair dalam hal pemberian reward dan punishment. Guru yang selalu menambah kompetensinya dan kreatif harus mendapatkan penghargaan. Sebaliknya, guru yang tidak menunjukkan perbaikan kinerja bahkan “memagari diri dengan zona nyamannya” harus mendapat “teguran”. Penghargaan tidak semata-mata berbentuk financial, tetapi banyak teknik pemberian penghargaan terhadap guru yang berkinerja baik. Tentu saja yang dapat dan harus memberikan penghargaan dan teguran adalah stakeholder pendidikan terutama pemerintah atau Dinas Pendidikan. Penghargaan dan teguran merupakan sinyal kepada guru bahwa jika mereka berkinerja baik akan dihargai dan dinilai lebih dari guru lainnya, sedangkan jika mereka berkinerja buruk (tidak ada pengembangan diri dan kreatifitas)selama menjadi guru akan tak terperhatikan bahkan bisa saja mendapat “teguran”. Jika sinyal reward dan punishment sering dilihat dan didengar bahkan dirasakan, dapat diyakini akan berdampak perubahan mindset untuk lebih menyadari dirinya bahwa guru merupakan profesi yang harus selalu mengalami peningkatan kompetensi.

Peningkatan kinerja seorang guru yang ditandai dengan peningkatan kompetensi, kreatifitatas, dan inovasi, akan semakin cepat menjadi kenyataan jika guru bersangkutan mau mengubah mindset pemikirannya secara mandiri. Guru berusaha untuk tidak terpengaruh terhadap sistem tidak fair yang mereka rasakan. Guru harus yakin bahwa guru sejati adalah yang selalu termotivasi untuk bekerja maksimal dengan terus menerus menggali potensinya melalui kreatifitas dan inovasi. Guru tidak perlu memusingkan “guru” yang hanya meluluhkan kewajiban atau tugas pokoknya semata. Contoh kasus, seorang guru yang menerapkan pembelajaran Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) di kelasnya, tak perlu gelisah melihat kelas di sebelahnya hanya menerapkan pembelajaran kaku dan monoton. Meski harus mengeluarkan keringat lebih banyak dibanding guru lainnya serta mendapat perlakuan yang sama dari kepala sekolah, guru kreatif harus yakin bahwa dia telah pada jalur yang benar sebagai seorang guru tulen. Selain itu, untuk membesarkan hati, seorang guru kreatif atau berkinerja baik harus mencamkan pada dirinya bahwa penghargaan dari Allah adalah di atas segalanya. SEKIAN



About MS. SALMAN

MS. SALMAN
Lahir di Parepare Sul-Sel 14 Agustus 1973. Tamat SPG Parepare tahun 1992, lanjut ke PGSD. Meraih S1 BK tahun 2004, dan selesai di S2 Bahasa Indonesia UNM Makassar Tahun 2012. Saat ini. mengajar di SD Negeri 71 Parepare. Menikah tahun 2004 dengan seorang guru juga, Mukrimah, namanya. Sampai saat ini dikaruniai 3 orang anak. Karyanya 3 buku cerita anak, 1 kumpulan cerpen, dan 1 lagi kumpulan opini pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


− 3 = zero

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Penting untuk tahu:close
3 Flares Twitter 1 Facebook 2 Google+ 0 Email -- Filament.io 3 Flares ×