Menu

Bunda, Anak Tantrum tidak Selalu Buruk Lho! Simak Nih

Anak yang sedang mengalami ledakan emosi atau pengertian dari tantrum, sering meresahkan orang tua. Ketika segala cara untuk meredakan tangis dan teriakan anak tidak berhasil, tidak jarang orang tua ikut tersulut emosi.

Namun.. Percaya atau tidak, tantrum tidak selalu merupakan hal buruk. Salah seorang Pakar kepengasuhan Kanada Deborah MacNamara mengatakan tantrum adalah bagian penting dalam perkembangan kesehatan emosional anak.

Berikut lima penjelasan manfaat tantrum pada anak dikutip dari laman Parents.

1. Lepas stres

Dalam Air mata mengandung hormon stres kortisol. Ketika manusia menangis itu artinya ia melepaskan stres dari tubuh. MacNamara menjelaskan air mata juga menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kondisi emosional setelah tangisan mereda.

Ia menyarankan orang tua membiarkan anak melepaskan emosi serta perasaannya tanpa melakukan interupsi selama tidak membahayakan. “Menangis itu tidak menyakitkan, tetapi proses supaya tidak sakit lagi,” Jelasnya.

2. Anak belajar

Menurut pendiri Hand in Hand Parenting Patty Wipfler mengatakan belajar adalah hal alami bagi anak. Prosesnya hampir sama seperti bernapas. Saat anak tidak bisa berkonsentrasi, bisa jadi ada sesuatu terkait emosi yang memblok perkembangan itu.

Tak sedikit anak yang tantrum karena permainan terganggu atau tidak bisa menyelesaikan gim tertentu. Namun, setelah tantrum mereda dijamin dia bisa merampungkannya. Ketika mengekspresikan rasa frustrasi membantu anak menjernihkan pikirannya.

3. Tidur lebih nyenyak

Banyak orang tua sangat berhati-hati supaya anaknya tidak tantrum atau menangis dalam waktu lama. Pendekatan itu bukan yang terbaik karena bisa memicu masalah tidur pada anak. Adanya gelembung emosi justru hadir saat otak seharusnya beristirahat.

Persis seperti orang dewasa, anak-anak bisa sukar tidur karena stres atau memproses berbagai hal yang terjadi seharian. Ketika Membiarkan anak meluapkan emosi saat tantrum memperbaiki kondisi emosionalnya dan membuat mereka tidur lebih nyenyak.

4. Belajar menghadapi kata tidak

Kebanyakan anak mengalami tantrum setelah mendapat kata ‘tidak’ dari orang tua. Itu bagus, karena artinya orang tua tidak memberikan segala yang dikehendaki anak. Mengatakan ‘tidak’ mengajarkan anak supaya tahu batasan.

Berkata ‘tidak’, berarti tidak takut pada sisi emosional kepengasuhan. Dari sejak dini, anak perlu mengetahui mana perilaku yang bisa dan tidak bisa diterima. Orang tua dianjurkan bersikap tegas sambil tetap menawarkan pelukan, empati, dan kasih sayang.

5. Aman mengekspresikan diri

Banyak kasus, tantrum merupakan cara anak memanipulasi orang tua supaya mendapat apa yang dia inginkan. Saat orang tua melarang atau melakukan pembatasan, emosi meledak dan memaksa orang tua menuruti kemauan anak.

Namun begitu, tantrum juga menunjukkan bahwa anak merasa aman mengekspresikan diri di depan orang tua. Pada akhirnya, tantrum adalah bukti bahwa anak sangat membutuhkan cinta dan koneksi hangat dengan ayah bunda.

Jenis Tantrum ada 2

menyikapi anak tantrumTantrum biasanya muncul pada anak yang memiliki usia 15 bulan ke atas. Ini terjadi karena ketidakmampuan anak untuk menjelaskan apa yang menjadi keinginannya dengan kata-kata. Karena itu, emosi mereka meledak dan menjadi tantrum. Tak ada salahnya ibu mengetahui beberapa jenis tantrum pada anak, agar ibu bisa menangani tantrum pada anak dengan baik.

1. Tantrum Manipulatif

Kebanyakan, tantrum manipulatif akan muncul jika keinginan anak tidak dipenuhi. Tantrum manipulatif adalah salah satu tindakan yang dilakukan oleh anak-anak ketika keinginannya tidak terpenuhi dengan baik. Hal ini adalah tantrum yang dibuat-buat oleh anak-anak untuk membuat orang lain memenuhi keinginannya. Tantrum manipulatif tidak terjadi pada semua anak. Biasanya tantrum manipulatif muncul akibat adanya penolakan.

Dalam hal ini banyak hal yang bisa ibu lakukan untuk menghentikan anak dari kondisi tantrum. Tenangkan anak. Ibu bisa membawa anak ke tempat yang lebih tenang, pantau anak dan awasi, bebaskan dia untuk melakukan apa yang dia mau untuk bisa meluapkan emosinya. Pastikan ibu atau pasangan juga mampu menguasai emosi agar orangtua juga bisa terlihat tetap tenang dalam menghadapi anak yang tantrum. Kalau anak sudah tenang, berikan penjelasan kepada anak bahwa perilaku seperti tadi tidak bisa diterima dengan kata-kata yang lebih mudah dimengerti oleh anak. Kasih penjelasan yang baik bagaimana seharusnya anak bersikap untuk mendapatkan yang dia inginkan.

2. Tantrum Frustasi

Biasanya anak akan mengalami tantrum frustasi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kelelahan, kelaparan, atau gagal melakukan sesuatu. Terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua jika anak mengalami tantrum frustasi. Beri pendekatan kepada anak dan buatlah anak menjadi tenang. Lalu, bantu anak untuk menyelesaikan apa yang tidak bisa dia lakukan. Usai anak tenang dan berhasil melakukan apa yang dia inginkan, berikan penjelasan kepada anak bahwa perilaku yang dilakukan tidak baik. Ajari anak untuk meminta pertolongan kepada orangtua atau orang lain yang anak kenal. Tidak ada salahnya sesekali memberikan pujian kepada anak jika dia berhasil melakukan sesuatu tanpa tantrum. Ketika anak meminta pertolongan berikan pertolongan dengan lembut dan kasih sayang.

Tantrum pada anak memang terkadang merepotkan. Namun, disini peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membantu perkembangan dan karakter anak. Ketika menenangkan anak, sebaiknya orangtua menghindari tindakan kekerasan pada anak agar anak merasa dihargai. Orangtua adalah panutan bagi anak, sebaiknya lakukan perilaku yang bisa dijadikan pelajaran untuk anak.

Sumber : republika (Anak Tantrum tidak Selalu Buruk, Ini Penjelasannya), halodoc (mengenal 2 jenis tantrum)

Tim Redaksi guru.or.id

No comments

Leave a Reply


× 9 = sixty three