Menu

Cak Nun : Agar Pendidikan Modern Tak Mencetak ‘Buruh’

Saat ini pendidikan menjadi lembaga dagang, karena sejak awal pendidikan modern seperti sekolah, menjadi tempat training calon-calon buruh, pegawai, karyawan dan perangkat industry. Pendidikan modern berorientasi ke industry. Maka tidak heran jika kadang mengabaikan kemanusiaan, akhlak dan rahmatan lil ‘alamin. Begitu ungkap budayawan Emha Ainun Najib atau akrab disapa Cak Nun.

pixabay.com

Meskipun demikian tidak perlu pesimis, karena sebetulnya pendidikan bertujuan untuk menunjukan hakikat keberadaan seseorang dengan potensinya. Cak Nun mengibaratkan, pendidikan menuntun agar menemukan siapa dirinya. Jika ia cabe maka menyadari ia cabe sehingga bermanfaat, tetapi akan berbahaya jika cabe menyangka dirinya bawang merah.

Cak Nun juga menyoroti adanya branding Pendidikan Unggul. Menurutnya setiap orang memiliki potensi masing-masing. Sejak ada kata unggul di sekolah dan universitas, ibarat seorang yang memuji dirinya sendiri. Anda boleh hebat tetapi yang ngomong hebat harus orang lain. Jika mengaku diri sebagai sekolah unggul maka ini masuk kategori pemasaran. Dan di dunia tidak ada yang unggul karena masing-masing memiliki fadhilah berbeda.

Cak Nun mengibaratkan kambing memiliki ukuran sendiri, gajah memiliki ukuran sendiri. Tidak berarti gajah kemudian lebih unggul karena memiliki ukuran lebih besar. Tetapi masing-masing sudah ada pada proporsinya.  Lebih lanjut Cak Nun mengungkap, pendidikan bukan lembaga dagang meskipun di dalamnya ada unsur dagang. Untung rugi tidak boleh menjadi supremasi dalam pengelolaan pendidikan. Supremasi pendidikan adalah mendidik anak menemukan fahdilahnya agar bermanfaat dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Membedakan Sinau, Pendidikan dan Sekolah

Cak Nun pun menguraikan perbedaan sinau, pendidikan dan sekolah. Sinau mengacu kepada subjek yang sinau (belajar). Orang yang sinau disebut murid, merupakan orang yang mempunyai kehendak untuk mencari ilmu. Keinginan datang dari murid, sehingga pada zaman dahulu bukan Kyai yang membangun pesantren tetapi santri yang mencari Kyai dan membangun sendiri pondok untuk belajar. Ini berbeda dengan pendidikan barat yang berangkat dari orang yang ingin mendidik. Maka di Negara-negara barat membuat kelas atau sekolah.
Pendidikan merupakan inisiatif sosial untuk menciptakan lembaga yang menyediakan guru untuk mendidik murid. Bentuknya bisa berupa sekolah. Sedangkan sekolah merupakan tempat yang menyediakan pengajar untuk murid. Dalam hal ini sinau memiliki cakupan lebih luas, karena siapapun bisa sinau. Petani, pedagang atau siapapun bisa sinau atau belajar meskipun tidak perlu di sekolah. [e]

Eko Triyanto
“Jika aku belum bisa berbuat baik, biarlah kutuliskan kebaikan-kebaikan orang lain, yang padanya aku berharap akan menumbuhkan kebaikan.”

No comments

Leave a Reply


× 5 = thirty

Mainan Edukatif