Menu

Hari Puisi Nasional: Puisi dari Gus Mus di tengah Wabah Pandemi

Hari Puisi Nasional: Puisi dari Gus Mus di tengah Wabah Pandemi

GURU.OR.ID—28 April diperingati sebagai hari Puisi Nasional. Hari ini mengingatkan kita pada maestro puisi besar, Chairil Anwar. Berkat peran besarnya pada kepenulisan puisi, maka Perpustakaan Nasional RI memberikan penghargaan kepadanya, sebagai Hari Puisi Nasional.

Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia terkenal dengan ratusan koleksi puisinya, yang di tulisnya tahun 1943-1949. Hasil karyanya tidak semua di terbitkan untuk publik. Pada masa perjuangan dan awal kemerdekaan bangsa Indonesia, puisi yang ditulisnya banyak menceritakan gairah dan semangat. Bukan lagi tentang diri sendiri, tapi kemanusiaan.

Ada hal yang perlu diingat dalam setiap hari-hari besar tahun ini, di sebagian penjuru dunia tengah dihadapkan dengan wabah virus corona, tak terkecuali Indonesia. Tahun ini juga, Ramadhan dan hari ini, Hari Puisi Nasional.

Bagaimana para sastrawan selalu mengingat hari dimana kecintaannya pada puisi diperingati. Karena pada puisi inilah hasil pikiran dan keresahan dinikmati orang. Lewat pusi inilah, budaya literasi selaras dengan gerakan yang di buat oleh Pemerintah agar dapat menumbuhkan kebiasaan membaca, menumbuhkan kreatifitas dalam sastra, dan tentunya mampu mengingat hari-hari besar nasional, seperti hari ini—Hari Puisi Nasional.

Di tengah wabah pandemi ada yang tidak luput. Ada yang begitu mengingat tanggal 28 April. Beliau Kiai Ahmad Mustofa Bisri, ia menuliskan puisi yang menggambarkan perasaan umat Islam yang mencitai rumah Allah, masjid hingga Makkah, Madinah. Puisi yang berjudul ‘Talbiyah Dalam Kesendirian’ menceritakan kerinduan umat Islam kepada masjid yang saat ini dikosongkan karena covid-19.

Talbiyah Dalam Kesendirian

 

Tuhan,

Engkau sepikan tempat-tempat kesibukan kami

Engkau sunyikan tempat kami membanggakan jumlah kelompok kami

Bahkan Engkau senyapkan rumah-rumahMu yang selama ini kami ramaikan hanya untuk memuja diri-diri kami

MengingatMu pun demi kepentingan kami sendiri.

Tuhan,

Bila ini bukan karena kemurkaanMu kami tidak peduli

Bila ini karena cinta dan rinduMu kepada kami

Bimbinglah kami

Untuk segera datang, Tuhan, memenuhi panggilanMu

Terimalah.

Labbaika Allahumma labbaika labbaika la syariika laka labbaika

Innal hamda wanni;mata laka walmulk la syarika laka

 

Puisi tersebut sangatlah menggambarkan bagaimana kerinduan umat Islam pada rumah yang selalu mereka jadikan ‘rumah.’ Semoga hal-hal baik mampu kita dekap dibalik wabah corona, sehingga tidak ada yang merasa kita ini sedang teraniaya.

Di balik wabah dan puisi Gus Mus, kami segenap tim redaksi mengucapkan selamat Hari Puisi Nasional. Selamat membaca, membaca, dan berkarya.

No comments

Leave a Reply


× eight = 24

Mainan Edukatif