Menu

Kesalahan Komunikasi kepada Anak, Ini yang Harus Dihindari

Kesalahan Komunikasi kepada Anak, Ini yang Harus Dihindari

GURU.OR.ID—Komunikasi yang efektif merupakan kunci keharmonisan keluarga. Modal inilah yang mampu membawa anak pada sikap yang diharapkan oleh parents. Namun, survey membuktikan bahwa komunikasi adalah bagian yang masih sulit diterapkan. Banyak orang bermasalah dalam berkomunikasi.

Secara umum, komunikasi menjadi hal yang krusial dalam segala aspek, lingkungan keluarga, kerja, organisasi, dan lain sebagainya.

Menjadi orang tua yang tidaklah mudah. Banyak hal yang harus disiapkan, khususnya pola asuh anak. Dalam proses tumbuh kembang anak, komunikasi yang baik diperlukan guna mendukung bagaimana ia tumbuh kelak. Menjadi pribadi yang positif ialah harapan orang tua.

Perkembangan anak bisa dilihat dari komunikasi antara orang tua dan anak yang dimulai sejak dini. Membangun kepercayaan diri anak, membantu anak dalam membangun hubungan anak dengan sosialnya, dan membangun konsep diri yang positif bagi anak dibutuhkan komunikasi yang efektif antara kedua belah pihak.

Komunikasi yang baik seyogyanya melalui dua arah, dimana kerja antara orang tua dan anak seimbang. Tidak melulu orang tua yang berbicara, sesekali harus mendengarkan. Praktisi Pendidikan Keluarga, Najeela Shihab mengungkapkan bahwa komunikasi sangat penting dibutuhkan dalam keluarga. Hal ini akan mempengaruhi bagaimana keluarga terbentuk.

Ia juga menambahkan, komunikasi yang efektif timbul dimana orang tua bisa hadir sepenuh hati dan sepenuh tubuh bersama anak. Akan tetapi, kadang kala orang tua sering memilih cara yang tidak efektif yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Bahkan bisa merusak hubungan orang tua dan anak atau membuat anak jauh dari parents.

Di bawah ini hal-hal yang harus di hindari dalam berkomunikasi dengan anak:

  1. Memberi label tertentu pada anak

Jati diri seorang anak kecil belum lah terbentuk. Saat ia masih kecil akan terus mencari jati dirinya yang sesungguhnya.

Terkadang sikap dan tingkahnya yang aktif membuat para orang tua kwalahan—menjadikan emosi sulit dikendalikan. Sehingga hal-hal di luar kendali bisa terjadi, seperti kalimat yang muncul dari orang tua.

Sebagai contoh, seorang Ayah melabeli anaknya sebagai “anak nakal.” Ia akan menganggap dirinya benar-benar seperti itu.  Meskipun label yang diberikan itu positif, hal ini juga jangan dilakukan.

Label positif tersebut akan membuat anak tidak nyaman. Misal, orang tua melabelinya sebagai anak yang pintar menari karena badannya yang lentur. Padahal mungkin bakatnya tidak disitu.

  1. Membohongi anak demi kebaikan

Untuk menjaga perasaan atau untuk mempermudah suatu hal agar mungkin anak tidak takut pada suatu hal, terkadang orang tua membohongi anaknya. Kebohongan seperti ini disebut white lies.

Yang perlu digaris bawahi adalah, walaupun kebohongan yang kita anggap baik seharusnya hal ini tidak boleh dilakukan. Hal ini akan menjadi fatal, ketika anak mengetahui kebenarannya sehingga anak akan kehilangan kepercayaan kepada orang tua.

Selalu ada alternatif lain untuk berkomunikasi dengan anak.

  1. Tidak perlu terlalu sering menasehati

Setiap ingin parents pastinya selalu ingin dilakukan oleh anak tercinta. Nasehat yang baik sangat dibutuhkan, bukan berarti “menceramahi” secara terus menerus.

“Kamu tuh jangan begini…”

“Seharusnya, kamu seperti ini biar…”

Arahan yang sifatnya menceramahi tidak akan menjadi energy positif. Hal ini akan membuat anak ketakutan. Membuat anak tidak percaya diri atas apa yang mereka lakukan.

Orang tua cenderung menutup telinga terlebih dahulu ketika anak mulai berbicara—mulai menjelaskan suatu hal. Jadilah pendengar, bukan hanya berbicara. Anak-anak butuh ruang untuk mengeksplore dirinya.

  1. Mengancam si kecil

Di situasi di luar kendali parents, terkadang ungkapan ancaman muncul. Niatnya memberi arahan anak agar tidak keliru, tetapi malah menimbulkan ketakutan.

“Kamu kalau nggak belajar nanti Mama suruh kamu push up.”

Ungkapan tersebut bukanlah menjadi motivasi seorang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik, tetapi malah meruntuhkan percaya dirinya. Karena jika tidak patuh akan di hukum.

Jelas, ini bukan caranya.

Demikian hal-hal yang harus di hindari saat berkomunikasi dengan anak. Luangkan waktu Anda untuk mendampingi putra putri di rumah. Agar kedekatan emosi bisa semakin erat. Yuk, menjadi orang tua yang bijak.

Membangun komunikasi, bukan malah membuat takut si buah hati.

No comments

Leave a Reply


− five = 4

Mainan Edukatif