Menu

Manfaat Life Skill dalam Pendidikan Siswa di Sekolah

Pembekalan life skill bagi siswa saat ini dianggap sangat penting karena kemampuan akademik saja tidaklah cukup. Apalagi jika melihat angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia yang masih rendah dibanding dengan Negara-negara di Asia Tenggara.

APK merupakan cerminan dari tingkat keberlanjutan siswa sekolah menengah atas untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apabila siswa tidak melanjutkan ke perguruan tinggia maka hanya ada beberapa kemungkinan lulusan SMA tersebut terjun ke dunia kerja, berwiraswasta atau menganggur.

Rendahnya APK pendidikan tinggi di Indonesia disebabkan beberapa faktor antara lain:
1. Keterbatasan ekonomi. Sebuah fakta yang tidak bisa dibantah mayoritas lulusan SMA sederajat di Indonesia tidak didukung dengan pendanaan yang kuat, sehingga mereka tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apalagi ada stigma bahwa kuliah itu mahal.

2. Sulitnya akses karena faktor geografis. Indonesia memiliki wilayah yang luas, sedangkan perguruan tinggi banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, bahkan perguruan tinggi yang dianggap berkualitas lebih banyak berada di Pulau Jawa. Hal ini membuat banyak lulusan SMA kesulitan untuk masuk ke perguruan tinggia. Jarak yang jauh membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga mereka lebih memilih langsung bekerja ketimbang kuliah.

3. Model Pendidikan Berbasis Akademik. Sebagian besar perguruan tinggi baik negeri maupun swasta banyak yang masih berbasis akademik. Padahal dengan perkembangan zaman seperti saat ini, sekolah vokasi dinilai lebih memberikan keterampilan yang aplikatif untuk terjun ke dunia industry maupun dunia usaha.
Dengan kondisi tersebut membuat lulusan SMA harus siap terjun ke dunia kerja, bersaing dengan lulusan perguruan tinggi. Maka memberikan life skill kepada siswa, khususnya jenjang SMA akan sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka setelah lulus.

Empat Pilar Pendidikan Menurut UNESCO

Unesco sebagai lembaga milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang konse dalam pendidikan dan kebudayan telah menetapkan empat pilar pendidikan. Sehingga peserta didik selain mendapatkan pengetahuan secara akademik, juka memerlukan bekal keterampilan yang sesuai dengan lingkungan kehidupan mereka.

Empat pilar tersebut dikenal sebagai :
• learning to know atau belajar untuk mengetahui
• learning to do atau belajar untuk melakukan
• learning to be atau belajar untuk menjadi diri sendiri
• learning to live together atau belajar untuk hidup bersama/kebersamaan, pengalaman belajar tersebut lalu dikembangkan menjadi konsep pembelajaran berbasis kecakapan hidup (life skill).

Sehingga memberikan dan mengembangkan life skill siswa sangat dibutuhkan di antaranya karena beberapa alasan berikut, yang dirangkum Darwyansah.

1) Untuk meraih kesuksesan dalam kehidupannya siswa harus dibekali dengan keterampilan-keterampilan hidup seperti: amanah, disiplin, jujur, cerdas, sehat dan bugar, pekerja keras, pandai mencari dan memanfatkan peluang, mampu bekerja sama dengan orang lain, serta berani mengambil keputusan dan sebagainya,

2) Dengan keterampilan hidup yang diberikan di sekolah tersebut diharapakan adanya kesesuaian antara keterampilan-keterampilan hidup yang telah diberikan dengan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik setelah mereka menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. [e]

Eko Triyanto
“Jika aku belum bisa berbuat baik, biarlah kutuliskan kebaikan-kebaikan orang lain, yang padanya aku berharap akan menumbuhkan kebaikan.”

No comments

Leave a Reply


two + 1 =

Mainan Edukatif