Menu

5 Cara Bijak Memberi Nasihat Kepada Anak

Memberikan nasihat bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi harus melakukannya dengan benar dan pada waktu yang tepat. Di tengah kondisi sosial yang kian permisif, budaya saling menasihati perlahan tergerus zaman. Meskipun demikian, bagi orang tua atau guru, memberika nasihat kepada anak demi kebaikan mereka merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan.

pixabay.com

Secara bahasa, nasihat berasal dari bahasa Arab, an-nasihah yang berarti panduan, arahan, bimbingan atau tuntunan. Sehingga nasihat merupakan cara yang dilakukan untuk membuat seseorang lebih terarah kepada hal yang benar. Tetapi secara manusiawi tidak banyak orang yang senang dinasihati, meskipun sebetulnya ia sedang berada dalam kesalahan. Untuk itu dalam memberikan nasihat pun perlu menggunakan cara-cara yang bijaksana.

Memberikan nasihat ibarat orang yang menjahit pakaian. Orang yang sedang memberikan nasihat serupa orang yang sedang memperbaiki pakaian, agar lebih baik, tidak berlubang dan pantas dipakai. Dalam konteks memberikan nasihat kepada anak, yang sedang tumbuh, ibarat memberikan nasihat kepada penumpang kapal yang tengah berlayar agar kapal tidak tenggelam.

Jika mengetahui anak berbuat keliru dan dibiarkan, maka seperti membiarkan anak membuat satu lubang pada badan kapal, semakin diulangi, semakin banyak lubang yang ada dan memungkinkan air masuk ke dalam kapal. Jika orang tua atau guru tetap membiarkannya maka sama saja menunggu sang anak tenggelam bersama kapalnya. Maka memberikan nasihat kepada anak sangat penting dilakukan.

Ketika Menasihati Terkesan Menghakimi
Seperti sudah diulas di depan, bahwa secara manusiawi kebanyakan orang tidak suka untuk dinasihati. Apalagi jika nasihat itu justru terkesan menghakimi, tentu orang semakin tidak senang menerimanya. Keduanya memang memiliki kemiripan, sehingga kadang orang tidak menyadari ketika ia bermaksud menasihati tetapi justru berlaku menghakimi.

Perbedanaan keduanya antara lain, menasihati cenderung dengan kata yang bijak dan sopan, sedang menghakimi seringkali dengan kata-kata kasar. Menghakimi mengarah kepada menimpakan kesalahan, sedangkan menasihati melihat dari berbagai aspek, tidak semata-mata kesalahan dari orang yang diberi nasihat. Menasihat juga memberikan kesempatan kepada penerima nasihat untuk memilih keputusan terbaik, sedangkan menghakimi cenderung mendikte.

Lima Cara Bijak Memberikan Nasihat
Agar menasihat tidak terkesan menghakimi, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua saat memberikan nasihat kepada anak.
Pertama, memberikan nasihat harus dilandasi niat kebaikan, bukan berdasarkan amarah apalagi dengan tujuan ‘menjatuhkan’.

Kedua, memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Tidak di hadapan orang lain, tidak pada waktu-waktu penting seperti hendak berangkat sekolah, atau sedang pulang dari bepergian. Karena waktu-waktu itu anak sedang butuh suasana untuk fokus.

Ketiga, jika nasihat diperlukan karena untuk memperbaiki kesalahan, maka perlu menggali lebih dalam mengapa anak berbuat demikian. Serta berikan pilihan-pilihan agar anak memperbaiki kesalahan yang dilakukan.

Keempat, melakukan kontak mata, atau pun memperhatikan dengan seksama respon anak sangat penting. Ini menjadikan orang tua terlihat peduli dan memang benar-benar memberikan perhatian kepada anak.

Kelima, kata-kata yang ringkas dengan intonasi yang jelas akan lebih mudah dicerna anak. Sehingga ia tahu poin-poin mana saja yang dinasihatkan orang tua.

Tidak kalah penting adalah memperhatikan tipe anak, karena masing-masing anak memiliki tipe berbeda. Jika anak memiliki tipe frontal, dan temperamen maka perlu disentuh sisi-sisi kemanusiaannya. [e]

Eko Triyanto
“Jika aku belum bisa berbuat baik, biarlah kutuliskan kebaikan-kebaikan orang lain, yang padanya aku berharap akan menumbuhkan kebaikan.”

No comments

Leave a Reply


7 − four =

Mainan Edukatif