Menu

Langkah-langkah Menghadapi Lingkungan ‘Toxic’

Hallo pembaca guru.or.id bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Setelah cukup lama off, nah pada artikel ini kita akan langsung membahas apa itu ‘toxic’ dan bagaimana cara mengatasinya? Selamat membaca.

Langkah-langkah Menghadapi Lingkungan ‘Toxic’

Guru.or.id—Istilah ‘toxic’ tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata tersebut telah menjadi ‘tren’ di suatu lingkungan tertentu. Toxic berasal dari Bahasa Inggris yang artinya ‘racun.’ Nah, lalu bagaimana dengan para pembaca guru.or.id yang saat ini merasa terjebak dalam lingkungan beracun? Apa yang harus dilakukan jika kita berdiri disana? Apakah harus stay or leave?

Lingkungan yang menyenangkan dan menenangkan barangkali selalu menjadi impian bagi setiap orang, baik di rumah, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, circle pertemanan, organisasi, ataupun dengan keluarga dari mertua sekalipun orang-orang mengingingan kehangatan didalamnya. Lingkungan yang beracun (toxic environment) ialah suatu keadaan yang didalamnya membuat kita merasa cemas, mengganggu kinerja sampai dengan hal yang berkaitan dengan mental health (kesehatan mental).

Bagaimana mungkin seseorang mampu bertahan jika ia tidak bisa bertumbuh? Ingin terus berkembang, namun ada hal-hal yang memberatkan. Jika kamu merasa tinggal dalam lingkungan beracun, entah itu hubungan pribadi, lingkungan kerja, organisasi dan lain sebagainya. Berikut ini langkah-langkah yang bisa diambil dalam menghadapi lingkungan ‘Toxic’ :

  1. Evaluasi Diri

Ketika para pembaca guru.or.id merasa ditengah-tengah lingkungan ‘toxic’ langkah pertama yang harus dilakukan adalah evaluasi diri. Pahami diri sendiri, apakah memang dalam lingkungan yang beracun atau hanya tidak mampu berfikiran terbuka? Jangan dulu menyalahkan A, B, atau C. Evaluasi diri lalu berbenah, mungkin ada yang kurang dalam diri kita. Bukankah sebaik-baik manusia yang mampu mengambil hikmah disetiap kejadian?

Memang benar, jika terlalu membawa perasaan tidak baik, namun jika hal tersebut sudah dirasa mengganggu ketenangan sampai dengan kesehatan mental coba dipikir kembali jika ingin tetap berada di lingkungan tersebut. Stay health, stay sane!

 

  1. Seni Memahami Orang Lain

Sudah cukup evaluasi diri? Mari kita lanjutkan dengan seni memahami orang lain. Tidak mudah dalam memahami orang lain—membutuhkan kelapangan hati untuk bisa menerima apa yang menjadi kebiasaan, bertutur, bersikap, dan berkomunikasi. Cara pada semasing orang tentulah berbeda, mungkin cara mimin dengan pembaca A ataupun B juga bertolak belakang. Sebenarnya, tugas kita adalah menerima segala bentuk karakter orang lain. Barangkali, apa yang menjadi karakter kita juga sulit diterima, tetapi orang-orang mampu bersikap lebih baik dari kita.

Lingkungan di tempat satu dan lainnya barangkali tidak sama, hal yang perlu dilakukan adalah jika kamu merasa dalam circle yang toxic dan bukan kamu sendiri yang merasakan kecemasan tersebut, nah, mungkin kamu memang harus berbenah atau berpindah.

Let’s to think twice, we have to deal with our decision!

  1. Komunikasi

Kalau sudah mencoba evaluasi diri dan memahami orang lain, kini saatnya kamu harus mulai berkomunikasi. Kita tahu bahwa ‘komunikasi’ adalah kunci dalam suatu hubungan dan lingkungan. Bagaimana bisa bertemu jalan keluarnya, jika kuncinya tidak digunakan?

Nah, ajak diskusi teman yang kamu rasa dia adalah orang yang tepat untuk diajak bertukar pikiran. Dia yang tidak hanya mendengar, tapi memahami. Dia yang memberi saran tanpa merasa paling benar. Setelah tahu bagaimana hasil dari diskusi tersebut, kamu dapat menyimpulkan bagaimana jalan lebih baiknya. Apakah dia juga merasakan seperti mu? Jika ia, kamu tentu sudah lebih tahu jalan keluarnya.

Ingat, ketika bertanya, berdiskusi kamu bukan mencari validasi pembenaran atas apa yang kamu inginkan. Berkomunikasi, bukan mencari banyaknya validasi. Berdiskusi, bukan menggiring jawaban.

  1. Berbenah

Setelah berkomunikasi dari hati ke hari, kini saatnya berbenah agar supaya indah hehehe. Pahami yang salah dilingkunganmu, kemudian buatlah perubahan-perubahan tersebut. Ingat, jika itu adalah lingkungan kerja berarti itu tugas bersama-sama, bukan individu.

Dan saat ini waktunya kamu merasakan dari langkah-langkahmu untuk berbenah tersebut, apakah masih sama toxicnya atau sudah lebih baik?

  1. Pergi dari Lingkungan Tersebut

Apakah dirimu bisa tumbuh atau masih penuh dengan kecemasan berada dalam lingkungan tersebut? Jika kamu sudah berusaha dan tetap masih belum bisa mengubah lingkungan yang beracun tersebut, kini saatnya kamu mengambil langkah besar: stay or leave? Bertahan atau pergi?

Memilih mencari jalan lain untuk menyelamatkan diri sendiri itu perlu. Saat ini, jika kamu tidak kuasa untuk menahan diri dari segala bentuk hal yang mengganggu produktivitas, kebahagiaan, dan ketenangan mungkin untuk memutuskan pergi merupakan hal yang juga berat. Namun, bagaimana mungkin kamu akan terus berdiri dalam lingkungan yang tidak bisa membuatmu ny(aman)? Bukankah yang dicari juga rasa ny(aman)?

Para pembaca guru.or.id, demikian langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam menghadapi lingkungan  toxic.’ Stay or leave? Keputusan ada ditangan pembaca semuanya. Cukup sekian pembahasan pada artikel kali ini, jangan berhenti berdampak. Selamat bertumbuh, semoga semakin utuh!

No comments

Leave a Reply


eight − 2 =

Mainan Edukatif