Menu

Tanamkan Kejujuran pada Anak Sejak Usia Dini

Tanamkan Kejujuran pada Anak Sejak Usia Dini

Guru.or.id – Yang dibutuhkan adalah kebenaran, bukan https://www.guru.or.idpembenaran. Menyenangkan atau menyakitkan sampaikan pada anak. Karena kejujuranlah yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya dan bagaimana nantinya sikap mereka terbentuk. Memiliki akhlak santun adalah cita-cita setiap orangtua.

Para orangtua pembaca Guru.or.id tentunta menjadi tantangan besar bagi setiap orangtua untuk membentuk perilaku dan sikap yang baik bagi putra putrinya. Masing-masing orangtua tentunya memiliki caranya sendiri bagaimana mendidik anak-anaknya agar benar memiliki kepribadian yang diharapkan. Namun terkadang, para orangtua terpaksa membohongi anaknya dengan alasan ‘demi kebaikan.’ Salah satu contohnya adalah, ketika anak jatuh terpeleset karena lantai yang licin, lalu menangis. Orangtua pun menyalahkan lantainya, “Lantainya nakal, biar Ibu jewernya!.” Seiring tumbuhnya anak, mereka juga akan meniru apa yang lingkungannya lakukan. Padahal, memang harus dijelaskan dan disampaikan supaya anak tidak terpeleset lagi. “Tidak apa-apa, Nak. Besuk lagi harus hati-hati, ya?” Jelas terlihat perbedaannya, bukan?

Pada usia dini anak-anak rentan terhadap proses mengamati dan meniru lingkungannya. Maka, keteladanan yang mereka butuhkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nanyang Technological University Singapore (NTU Singapore) yang dimuat di halaman Journal of Experimental Child Psychology ini dipimpin oleh Setoh Peipen seorang Assistant Professor of Social Sciences NTU Singapore. Penelitian ini dilakukan menggunakan kuesioner yang dilakukan kepada 379 orang tua muda Singapura.

Analisis para peneliti terhadap jawaban responden ada dua, yang pertama adalah menjadikan anak yang kurang diharapkan oleh masyarakat. Seperti sikap agresif, suka berbohong, egois, dan pembangkang. Yang kedua adalah sifat dan sikap anak-anak di masa depan akan berpengaruh karena jenis kebohongan yang disampaikan orang tua. Misalnya, “kalau tidak mau nurut, aku akan lempar kamu ke laut.” Hal seperti ini akan berisiko pada anak memiliki kesulitan pemahaman di masa datang.

Untuk menguatkan hasil penelitian tersbut, mereka sepakat bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang sebab orang tua mengatakan kebohongan. Namun, yang saat ini perlu digaris bawahi berdasarkan hasil studi ini, kebohongan yang dilakukan oleh orang tua akan memberikan dampak negatif bagi perilaku anak. Penanaman nilai moral dan contoh keteladanan harus dibiasakan para orang tua.

Menurut Yusuf (2009:133), ada beberapa sikap orang tua yang harus diperhatikan dalam membentuk kejujuran anak usia dini: konsisten dalam mendidik anak, sikap orang tua dalam keluarga, penghayatan, dan pengalaman agama yang dianut, serta sikap orang tua dalam menerapkan norma.

Para orang tua harus memiliki kesepakatan bagaimana mengatur hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang. Sikap yang tidak terbuka menyebabkan anak enggan berbagi. Sikap tidak peduli pada anak akan menyebabkan anak kurang memperdulikan nilai-nilai yang ada pada dirinya. Untuk itu para orangtua Guru.or.id, kasih sayang, keterbukaan, ketegasan, dan konsistensi dalam membiasakan hal-hal baik akan membentuk anak berperilaku jujur. Serta penerapan nilai agama sebagai pondasi utama dalam memahamkan anak bagaimana pentingnya berperilaku jujur.

Lalu, bagaimana contoh perilaku pembiasaan anak usia dini dalam menanamkan kejujuran pada mereka? Berikut ini beberapa contoh sikap yang bisa ditarapkan untuk Anda pembaca Guru.or.id:

  1. Buat Peraturan dalam Keluarga

Dalam pembentukan kejujuran tentunya diiringi dengan lingkungan yang mendukung, untuk itu para pembaca Guru.or.id Anda sebagai orang tua atau calon orang tua bisa membuat peraturan. Tindakan ini merupakan sebuah langkah preventif agar anak memiliki ketakutan tapi tidak untuk menakut-nakuti.

“Children learn what they live.” – Dorothy Law Nolte

Disini orang tua atau guru bisa memberikan pemahaman pentingnya sebuah kejujuran. Bahwa kejujuran itu merupakan sesuatu yang agama ajarkan. Orang tua atau guru bisa memahamkan akibat dari ketidakjujuran itu seperti apa. Hal ini bisa dijelaskan melalui cerita-cerita.

  1. Berikan Contoh Keteladanan

Hal pertama dan utama dalam membentuk  kejujuran anak ialah contoh real yang dapat mereka tiru. Di usia yang masih sangat dini mereka mudah sekali untuk merekam setiap kejadian yang dialaminya, untuk itu berikan dan biasakanlah contoh perilaku yang baik sebanyak-banyaknya.

Jujur disini ialah sesuatu yang dapat menjadikan mereka orang dapat dipercaya dalam perkataan dan perbuatan. Perlu kehati-hatian dalam memberikan contoh pada mereka.

  1. Berikan Pujian

Berikan pujian pada anak tetapi jangan berlebihan. Sifat dasar anak itu senang dipuji. Berikanlah pujian agar mereka senang. Agar mereka merasa puas pada yang telah dilakukannya—sikap jujur yang sudah anak kerjakan. Ada kutipan bagus karya Dorothy Law Nolte yang sudah tidak asing lagi.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”

Pembiasaan-pembiasaan itulah yang mampu membentuk karakter anak. Lalu, jika anak dibesarkan dengan kejujuran, dia akan tumbuh menjadi seseorang yang bermoral.

Selamat membiasakan hal-hal baik pada diri sendiri terutama pembiasaan dalam membentuk ‘kejujuran’ pada buah hati tercinta. Selamat membaca dan menikmati akhir pekan. Jangan lupa membagikan bacaan ini ya pembaca Guru.or.id? Semoga bermanfaat.

No comments

Leave a Reply


+ two = 4