All for Joomla All for Webmasters

Membangun Mentalitas dengan Sepatu Dahlan Iskan

sepatu-dahlan-iskan.jpg

Sepatu Dahlan dan Mentalitas Bangsa

 

Menurut Koentjaraningrat, salah satu kelemahan mentalitas bangsa dalam melaksanakan pembangunan adalah mentalitas meremehkan mutu. Masyarakat merasa senang dan bangga apabila mengunakan produk dari luar negeri. Gengsinya merasa terdongkrak. Sebaliknya, mereka merasa harga dirinya terjun bebas ketika mengenakan hasil karya anak bangsa sendiri. Kapitalisme berkontribusi besar terhadap fenomena ini.

sepatu dahlan iskan

gambar : pradananusantara.wordpress.com

Mentalitas seperti ini sudah seharusnya dipinggirkan. Masyarakat harus terus diedukasi. Kehadiran sepatu Demi Indonesia (DI) buah karya anak bangsa asal Magetan Dahlan Iskan patut diapresiasi. Karena dapat menjadi sarana edukasi untuk mempertebal mentalitas bangsa. Tidak hanya itu, bangga dengan sendiri dapat menjadi katalisator untuk meningkatkan nasionalisme.

Di India, salah satu yang dilakukan Mahatma Gandhi dalam melawan kapitalisme Barat adalah gerakan swadhesi. Yaitu menggelorakan semangat rakyat India agar menggunakan produk dalam negerinya. Ternyata langkah ini sangat ampuh. Perusahaan-perusahaan Inggris  gulung tikar, kala itu.

Entah kebetulan atau terinspirasi oleh Gandhi, Dahlan Iskan melakukan hal yang sama. Berawal dari kebiasaanya menggunakan sepatu cats, kemudian ia memproduksi sendiri. Kebiasaan itu bisa disaksikan hingga saat ini. Dia pun tampak bangga dan percaya diri. Ini pemandangan langka di Indonesia.

Sekolah memiliki tanggung jawab yang amat besar dalam membangun mentalitas anak didiknya. Lembaga pendidikan merupakan pondasi awal membangun pribadi-pribadi yang memiliki nasionalisme yang membanggakan. Guru-guru tidak seharusnya hanya mengurusi masalah ujian-ujian dan kemajuan sekolah, akan tetapi juga harus menangani mentalitas siswa-siswinya. Oleh karena itu, kebiasaan Dahlan itu patut diadopsi dan dijadikan virus yang harus ditularkan di kalangan guru dan siswa.

PRIYANDONO

About PRIYANDONO

Lahir di Rembang, 16 Oktober 1969. Lulus SPGN Rembang tahun 1988. Kemudian melanjutkan ke IKPI PGRI (sekarang UNIPA Surabaya) lulus tahun 1993. Setelah mengikuti tes CPNS 10 kali akhirnya tahun 2005 diterima sebagai CPNS di lingkungan Pemkab Gresik sebagai tenaga pendidik di SMPN 2 Baalongpanggang, Gresik. Tahun 1997 menikah dengan Rusmini, gadis desa asal kota tembakau Bojonegoro dan diakruniai dua anak, Dian Fitriani (14) dan Harum Puspitasari (10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ two = 5

Top
Penting untuk tahu:close