All for Joomla All for Webmasters

Meningkatkan Ketahanan Budaya

Meningkatkan Ketahanan Budaya

Para pendahulu kita mewariskan banyak budaya dan kesenian tradisional. Tetapi, generasi belia sekarang kurang bisa menjaganya. Menjadikan warisan leluhur yang syarat filosofi itu kian tak mendapat tempat. Keberadaannya terus digerus kesenian kontemporer. Tidak banyak anak-anak muda sekarang yang suka kesenian tradisional. Konon Ada anggapan, berkutat dengan seni tradisional ialah tindakan melawan zaman. Kemudian Ironisnya, mereka teriak-teriak ketika warisan itu (baca: kesenian tradisional) diklaim negara lain.

Ekses buruk dari semua itu, kesakralan suara gamelan dan gending-gending dari Jawa hilang dari pendengaran. Kelihaian membuang sampur dan lemah gemulai tangan seorang penari jarang terlihat. bahkan, Keterampilan memainkan wayang kulit dan suluk seorang dalang sudah jarang dilihat. Sederhananya, kesenian tradisional di era global sekarang ini berangsur-angsur ditinggalkan masyarakat.

            Pergerakan budaya asing ke Indonesia berlangsung sejak jaman praaksara. Pada masa itu penyebarannya bersamaan dengan migrasi kelompok manusia purba yang hidup secara nomaden. Selanjutnya dibawa oleh para pelaut, pedagang, dan tokoh agama. Dan setelah itu, difusi budaya dilakukan melalui penetrasi secara paksa oleh kaum penjajah dari Barat maupun Asia.

Dalam zaman modern seperti sekarang ini, difusi budaya berjalan sangat cepat dan efektif. Pergumulan budaya semakin intens melalui radio, televisi, buku, majalah, dan internet. Globalisasi meretas batas antar negara. Negara yang satu dengan yang lain semakin kabur batasnya. Teknologi informasi dan komunikasi menjadikan dunia ini kian dekat. Apa yang sedang terjadi di negara lain dapat kita saksikan di negeri sendiri tanpa harus beranjak dari rumah. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan anak emas globalisai. Ia menjadi katalisator penyebaran budaya. Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu menghindar darinya. Akibatnya, mau tidak mau, suka atau tidak suka semua negara,–termasuk Indonesia– mengalami keterbukaan budaya.

Adanya Kenyataan di atas menuntut kita untuk selalu meningkatkan ketahanan budaya. Sekolah mempunyai tanggung jawab yang amat besar mewariskan budaya adiluhung warisan leluhur. Guru harus menyibukkan diri membangun siswa-siswinya menjadi pribadi-pribadi yang memiliki local genius atau ketahanan Budaya. Ketahanan budaya adalah kemampuan kebudayaan dalam menerima, menyeleksi budaya baru (baca:asing), kemudian menyatukan dan menginkorporasikannya menjadi satu kesatuan budaya Indonesia.

Di tengah derasnya arus globalisasi, meningkatkan ketahanan budaya adalah sebuah keniscayaan. Mengapa? Pertama, karena kebudayaan bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. Nah, perubahan itu tidak kita biarkan berjalan semaunya sendiri, akan tetapi kita arahkan, kita kontrol, dan kita koreksi. Kalau tidak, niscaya nilai-nilai dan budaya kita akan mengalami pergeseran dan lama kelamaan akan sirna. Atau bahkan diklaim negara lain.

Kedua, kebudayaan itu seperti benda organis. A.Cohen, seorang Antropolog menuturkan Kebudayaan itu seperti benda organis yang hidup sehingga selalu mengembangkan kemampuan adaptasi agar dapat survival. Kalau kita sepakat itu, maka kebudayaan tidak ubahnya seperti tubuh manusia. Manusia akan tetap sehat manakala tahan menghadapi bibit penyakit. Sebaliknya, manusia akan jatuh sakit ketika tidak tahan menghadapi gempuran bibit penyakit.

Klain Malaysia atas Reog Ponorogo, tari tor-tor dan budaya Indonesia lainnya merupakan sebuah bukti lemahnya ketahanan budaya kita. Tidak hanya itu saja, adanya pergeseran serta hilangnya nilai-nilai budaya adiluhung warisan para leluhur merupakan sebuah cerminan lembeknya daya tahan kita dalam menghadapi perubahan budaya eksternal.

Kini kita terkesan abai terhadap budaya sendiri. Hal tersebut tergambar dari semakin sedikitnya anak-anak muda yang gandrung kepada budayanya sendiri. Pertunjukan jaran kepang, pencak macan, remo, wayang kulit dianggap kuno dan kampungan. Berbusana tradisional dianggap tidak gaul. Berbahasa Jawa dianggap melawan jaman. Mereka merasa lebih pretise apabila ngedance. Sebagian dari Mereka merasa harga diri naik ketika mengenakan busana yang serba minimalis. bahkan, mereka merasa lebih modern ketika berujar dengan menggunakan bahasa asing.

Untuk hal meningkatkan ketahanan budaya, sekolah bersama dengan masyarakat harus bahu membahu rutin menggelar serta mengajarkan kesenian-kesenian yang berakar pada tradisi. Tetapi kita juga tidak seharusnya melecehkan, memandang rendah, apalagi menolak unsur budaya asing. Itulah sebenarnya substansi dari pada pengertian ketahanan budaya.

Demikian semoga bisa menjadi bahan perenungan bagi kita, untuk menjaga aset bangsa mana yang memang layak untuk dijaga dan dipertahankan juga di nilai. Pendidikan berbasis budaya

PRIYANDONO

About PRIYANDONO

Lahir di Rembang, 16 Oktober 1969. Lulus SPGN Rembang tahun 1988. Kemudian melanjutkan ke IKPI PGRI (sekarang UNIPA Surabaya) lulus tahun 1993. Setelah mengikuti tes CPNS 10 kali akhirnya tahun 2005 diterima sebagai CPNS di lingkungan Pemkab Gresik sebagai tenaga pendidik di SMPN 2 Baalongpanggang, Gresik. Tahun 1997 menikah dengan Rusmini, gadis desa asal kota tembakau Bojonegoro dan diakruniai dua anak, Dian Fitriani (14) dan Harum Puspitasari (10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 − = two

Top
Penting untuk tahu:close