All for Joomla All for Webmasters

Menghadirkan Makna Sejarah

sejarah-indonesia.jpg

sumber gambar : blogspot.com

Menghadirkan Makna Sejarah

 

            Buku-buku sejarah kelihatan tertata rapi di rak perpustakaan. Fisiknya masih tampak bagus. Sepertinya tak pernah disentuh sama sekali oleh para pengunjung. Apalagi dibaca. Setelah saya konfirmasikan dengan petugas, ternyata benar. “Buku-buku sejarah jarang sekali peminatnya, pak,” tukasnya dengan nada datar. Dalam catatan kami, selama dua bulan terakhir ini tidak ada satupun pengunjung yang meminjam buku-buku sejarah, sambungnya.

sejarah indonesia

sumber gambar : blogspot.com

Kesadaran masyarakat terhadap sejarah bisa dibilang cukup rendah. Bagi mereka, membaca buku sejarah seolah seperti melawan jaman. Tidak hanya itu, sejarah juga kerap dipahami sebagai sebuah cerita masa lalu yang identik dengan dongeng penghantar tidur. Hal ini diperburuk dengan kurang tersedianya ruang bagi mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah formal. Akibatnya,upaya membangun kesadaran terhadap pentingnya memahami sejarah menjadi terkendala.

Disadari atau tidak, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap sejarah turut serta mengantarkan negeri ini dalam situasi karut marut. Yang kuat tanpa belas kasihan menggagahi hak-hak mereka yang lemah. Para pemimpin mandi dengan kemewahan, sementara rakyat keramas dengan air matanya. Semboyan yang digunakan adalah “Jawa Barat-Jawa Timur, Rakyat melarat, pimpinan makmur”.

Guru hanya sibuk dengan ujian-ujian. Wakil rakyat bekerja untuk partai, bukan untuk rakyat.  Kesadaran masyarakat berpolitik cukup besar, namun tidak  berimplikasi terhadap ketahanan organisasi politik itu sendiri. Setiap kali pesta demokrasi, mulai dari pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, anggota dewan, bahkan presiden tidak lepas dari adanya dugaan money politic. Akibatnya, pasca pemilu/kada terjadi anomali-anomali dalam penyelenggaraan birokrasi-pemerintahan. Korupsi pun terjadi di segala lini.

Pemberian monopoli sumber daya alam dan sektor ekonomi lainnya kepada pihak-pihak yang dekat dengan pusaran kekuasaan sudah bukan rahasia lagi. Menimbun barang, terutama Sembilan bahan pokok (sembako) masih kerap kita jumpai. Salah satu akibatnya, harga daging melambung. Demikian juga bawang merah dan bawang putih. Padahal, Bawang merah dan Bawang putih itu tak pernah rukun. Tapi, kali ini mereka berdua rukun berdampingan pada posisi harga yang tidak beda jauh.

Barangkali kita lupa. Karena itu, mari kita simak sejenak peristiwa revolusi Perancis (abad 18). Negara yang diperintah Raja Louis XVI itu mengalami krisis keuangan yang amat parah.  Anggaran Negara selalu defisit, hutang negara menumpuk. Mengapa ? Karena raja dan bangsawan hidup bergelimang kemewahan dengan cara merampok uang rakyat.

Di negeri kita sendiri. Pada masa demokrasi liberal (1950-1959) muncul banyak partai politik. Politik dagang sapi sudah ada saat itu. Satu partai politik berkuasa, partai politik yang lain berusaha untuk menjatuhkannya. Sehingga, dalam kurun waktu 9 tahun terjadi 7 kali pergantian kabinet. Kecuali itu, persoalan hubungan pusat dan daerah juga muncul ke permukaan  kala itu.

Di era reformasi hal itu terulang kembali. Kuantitas organisasi politik dikedepankan, sementara ketahanan dan efektifitas partai politik dipinggirkan. Demikian pula hubungan pusat dan daerah. Otonomi daerah yang secara konseptual cukup bagus, namun lemah dalam implementasinya. Dari tiga puluh delapan kewenangan pusat, 31 satu diantaranya diserahkan daerah. Hal ini menempatkan kepala daerah menjadi “raja kecil” di wilayahnya.

Mungkin kita juga lupa, bahwa pada tahun 1966 Mahasiswa Universitas Indonesia dan kesatuan aksi lainnya demo menuntut Pemerintah membubakran PKI, perbaikan ekonomi, dan membersihkan kabinet dari unsur PKI. Tuntutan tersebut kemudian kita kenal dengan Tritura atau tiga tuntutan rakyat.

Belum lama berselang, tahun 1998 terjadi demo besar-besaran menuntut  Presiden Soeharto lengser. Salah satu penyebabnya adalah karena kesenjangan ekonomi akibat  pemberian monopoli  kepada pengusaha terutama keturunan Cina yang dekat dengan keluarga Cendana. Di era reformasi diulangi dengan memberikan mega proyek kepada orang-orang yang dekat dengan kekuasaan dan atau pihak-pihak yang turut memberikan andil memenangkan pada saat pemilu/kada.

Kalau kita mau belajar sejarah, mestinya hal itu tidak perlu terjadi. Kalau kita sadar akan pentingnya memahami sejarah, kesalahan-kesalahan tersebut tak akan terulang lagi. Kurangnya pemahaman yang benar terhadap sejarah dengan segala dinamikanya menggiring kita terperosok pada liang kesalahan yang sama.

Sejarah merupakan hal yang sangat penting. Bung Karno mengingatkan kepada kita, jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan memahami serta memetik nilai dari peristiwa masa lampau, maka  kita dapat menentukan sikap pada saat ini. Tindakan yang kita lakukan saat ini akan sangat menentukan kesukseskan kita di masa mendatang. Inilah yang kerap disebut tiga dimensi sejarah.

Sejarah  memberikan sejumlah nilai yang amat berguna bagi kehidupan manusia kini dan yang akan datang. Selain berfungsi edukatif, inspiratif, dan rekreatif, sejarah juga berfungsi sebagai wahana melawan lupa. Penulis-penulis kondang  seperti Wayan Sunarta, A.S. Laksana mengakui pentingnya sejarah. Sejarah selalu mengajari kita banyak hal. “Melawan lupa adala kewajiban kita semua. Mengenang dan merenungi semua peristiwa yang telah terjadi adalah upaya kita memahami sejarah,” paparnya.

Sejarah akan terus mengalir. Berjalan, menggelinding bersamaan dengan bumi mengelilingi matahari. Setiap warga Negara seyogianya memahami benar sejarah bangsanya sebagai jejak masa lalu dengan segala dinamikanya. Pemahaman yang benar atas sejarah akan melahirkan kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah inilah yang akan menuntun masyarakat mengenal konsep diri sendiri sebagai bangsa. Ini penting karena niat dan kreativitas untuk membangun bangsa tidak akan pernah muncul tanpa kesadaran sejarah.

Terkecuali itu, kesadaran sejarah akan membangkitkan syahwat seseorang untuk membangun  bangsanya. Masyarakat yang tidak pernah membaca buku sejarah maka dia tidak akan mengetahui revolusi yang pernah menggetarkan bangsanya. Akibatnya mereka akan kesulitan menjaga momentum pembangunan dan kemampuan kreatif bangsanya.

Oleh karena itu, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk belajar sejarah. Caranya tidak ada jalan lain kecuali membaca buku-buku sejarah.  Jangan takut dikatakan melawan jaman. Begitu seharusnya.

Incoming search terms:

  • sejarah
  • gambar sejarah
  • dalam kurun waktu 9 tahunterjadi 7 kali pergantian kabinet mengapa hal ini bisa terjadi
  • sejarah guru
PRIYANDONO

About PRIYANDONO

Lahir di Rembang, 16 Oktober 1969. Lulus SPGN Rembang tahun 1988. Kemudian melanjutkan ke IKPI PGRI (sekarang UNIPA Surabaya) lulus tahun 1993. Setelah mengikuti tes CPNS 10 kali akhirnya tahun 2005 diterima sebagai CPNS di lingkungan Pemkab Gresik sebagai tenaga pendidik di SMPN 2 Baalongpanggang, Gresik. Tahun 1997 menikah dengan Rusmini, gadis desa asal kota tembakau Bojonegoro dan diakruniai dua anak, Dian Fitriani (14) dan Harum Puspitasari (10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− four = 0

Top
Penting untuk tahu:close